Minggu, 11 September 2011

Kultum Ba'da Zuhur: Menahan Amarah salah satu ciri orang yang Bertaqwa

Assalamualaikum wr.wb

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah.
Alhamdulillahilladzi ‘adada kholqihi wa ridho nafsihi wa zinata arsyihi wa midada kalimatih

Asyhadu ala ilaha ilallah wahdahullah syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh laa nabiyya ba'da

Allahummasholli wa salim Ala sayyidina wa habibina wa syafi'ina wa maulana Muhammad wa ala alihi wa ashabihi wa anit tabi'in wa tabiut tabi'in bi ihsani ila yaumiddin.

qolallahu ta'ala fi Qur'anil Kariem:
audzubillahiminasysyithon nirrojiemm
Alladzii na yunfiquuna fis saarroi wadh dhorroo I wal kazhimiinal ghoizho wal ‘aa fiina ‘aninnaas, wallahu yuhibbul muhsiniin.

Amma ba'du

Segala puja puji bagi Allah SWT Rabb semesta alam,
Atas izinNya kita bisa hadir untuk melaksanakan sholat zhuhur berjamaah di masjid nurul falah ini,
banyak sekali nikmat yg diberikan kepada kita diantaranya yg terbesar adalah nikmat Iman, Islam, serta nikmat sehat.

Sholawat dan salam kita haturkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta para keluarga,shahabat, tabi’in ,tabiut tabiin dan umatnya yg senantiasa mengikuti ajarannya hingga yaumil akhir.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Setelah menjalankan puasa di Bulan Ramadhan,tibalah bulan Syawal di mana hari kemenangan tiba. Idul Fitri itu hanya milik orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan,karena bagaimana mungkin kemenangan diberikan kepada mereka yang tidak melakukan perjuangan. Berjuang menahan haus dan lapar, berjuang menahan amarah, dan perjuangan lainnya.

Di bulan syawal yg artinya adalah peningkatan ini. Allah SWT masih memberikan kesempatan ibadah puasa tambahan, yaitu puasa sunah selam enam hari di bulan syawal.
Rasullulah SAW :
"Barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan,dan diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal,maka ia seperti berpuasa satu tahun penuh.."( HR Muslim )

jadi apabila kita puasa ramadhan dan dilanjutkan puasa syawal setiap tahunnya di sisa umur kita, maka seolah-olah kita berpuasa sepanjang hayat dari sisa hidup kita. Allahu’alam…
salah satu tujuan disyariatkannya puasa adalah supaya kita mencapai derajat taqwa, sesuai dengan firman Allah SWT Surat Al-Baqarah Ayat 183.” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Dan diantara ciri orang bertakwa adalah seperti firman Allah SWT Surat Ali Imran Ayat 134 yg artinya “(yaitu)orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Dalam kultum kali ini akan kami coba bahas mengenai salah satu ciri orang bertakwa yaitu yaitu Menahan Amarah.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Di filipina ada suatu restoran yang khusus menyediakan ruangan bagi para pelanggannya untuk melampiaskan atau menumpahkan amarahnya. Disana disediakan piring, gelas, perabot rumah tangga, televisi tua, dan lain-lain. Para pelanggan melemparkan barang pecah belah tersebut ke tembok kemarahan yang sambil mengumpat sepuas-puasnya.

Rasa marah merupakan bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.

Tapi bagaimana Islam mengaturnya? Islam sebagai agama yang syamil mutakamil memberikan solusi dalam hal amarah yg menjadi salah satu tabiat manusia.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah” (HR. Bukhari).

Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia”.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang dapat menahan marahnya, padahal ia kuasa untuk melampiaskan marahnya itu, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan iman dan rasa aman ketenangan” (HR. Abu Dawud)


Dalam Sabdanya yang lain: “Sesungguhnya marah itu datangnya dari syetan, dan syetan itu dijadikan dari api, dan yang dapat memadamkan api itu hanyalah air, maka apabila seseorang dalam keadaan marah hendaklah ia segera wudhu” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Manusia diciptakan dari tanah dan Tabiat tanah sendiri adalah diam dan tenang, sementara syetan diciptakan dari api dan tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.”

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘‘Alaihi wa Sallam tidak pernah marah jika disakiti. Tetapi jika hukum Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah.”{HR. Muslim (6195) & Ahmad (25200)}.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Dikisahkan bahwa, pada suatu ketika terjadilah peperangan antara kaum muslim dan kaum kafir Quraisy. Sayidina Ali pun tidak ketinggalan dalam peperangan itu. Beliau berhadapan dengan seorang kafir yang cukup kuat. Walaupun demikian, beliau mampu merobohkan musuh. Musuh pun menyadari bahwa dirinya akan mati, karena pastilah Ali segera membunuhnya.

Pada kesempatan itu ia gunakan untuk menghina dan meludahi Ali. Inilah kesempatan terakhir untuk melawan dan membela diri walaupun akhirnya ia akan mati juga. Orang kafir itu segera mencaci dan meludahi Ali dan tepat mengenai mukanya yang mulia.

Dengan segera Ali menghentikan dan menarik pedangnya, dan segera ia menyarungkannya. Melihat kejadian aneh itu, musuh pun terheran-heran,
kemudian bertanya: “Wahai Ali, kenapa engkau tidak jadi membunuhku?”.
Sayyidina Ali menjawab: “Aku takut membunuhmu karena ludah”.

Sayidina Ali berpandangan bahwa perang itu adalah untuk menegakkan agama Allah, jangan sampai dicampuri dengan hawa nafsu dan dendam kusumat. Beliau tidak mau mengotori agama dengan melampiaskan hawa nafsu.

Mendengar jawaban Ali yang begitu bersahaja, orang kafir tersebut tergugah dan terharu. Dan berkatalah dalam hatinya: “Ini adalah perang yang suci”, sehingga dia segera menghampiri Saiyidina Ali. Dengan berlinang air mata, orang kafir itu berkata: “Aku beriman kepada agama yang mulia”. Orang kafir itu masuk Islam seketika, dan kemudian bergabung dalam barisan kaum muslimin untuk jihad fisabilillah. Subhanallah, begitu mulianya akhlak dan keimanan saiyidina Ali. Dalam keadaan perang pun ia dapat mengendalikan marahnya.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Adapula kisah tentang seseorang yg tidak dapat menahan amarahnya. Kisah ini terjadi di negeri jiran, (kalau tidak salah antara singapura atau Malaysia).

Seorang Ayah memiliki seorang putera, selayaknya anak-anak umumnya. puteranya tersebut termasuk anak yang aktif.

Pada suatu hari sang anak mulai dapat menggambar, mulailah dia menggambar diatas kertas, papan tulis, Tidak ketinggalan tembok pun ia gambar.

Tiap kali selesai menggambar sang anak pun selalu dengan gembira dan antusias memberitahukan kepada orang tuanya.

Disinilah diuji kesabaran si orang tua tersebut, bayangkan rumah yg dicat dengan bagus tiba-tiba penuh coret-coretan, tetapi orang tua dari anak tersebut masih bisa bersabar. Dan memberitahukan kepada sang anak untuk tidak menggambar di atas tembok lagi.

Suatu ketika sang ayah membeli mobil keluaran terbaru karena hasil kerja kerasnya di kantor. Suatu hari mobil yg masih gress tersebut di parkir di rumah, dan sang anak pun dengan maksud ingin memberikan kejutan kepada sang ayah dengan menggambar di body mobil yg masih baru tersebut.

Sayang sekali yang digunakan oleh anak tersebut adalah paku, sehingga body dari mobil yg masih baru tersebut menjadi tergores dan lecet-lecet.

Coba kita bayangkan punya mobil baru, dihari pertama sudah penuh dengan lecet dan goresan dari paku. Hampir dipastikan kita jadi kesal bukan kepayang.

Pada malam harinya si ayah pun pulang dalam keadaan lelah sepulang dari kantor dan pikiran masih cenat-cenut memikirkan pekerjaan kantor. Tiba-tiba dia melihat mobil barunya tersebut dalam keadaan penuh dengan goresan dan lecet-lecet, dalam sekejap raut wajahnya pun berubah dengan amarah yg sudah di ubun-ubun.

Dia pun mendatangi puteranya tersebut dan memarahinya, sang anak pun cukup dengan melihat raut wajah ayahnya sudah ketakutan dengan sangat.
Ditambah lagi dengan omelan-omelan dari sang ayah membuat si anak bertambah takutlah. “ampun ayah, ampun …..ade gak akan mengulangi lagi…ampun ayahhh”, itu lah teriak si anak. karena sudah marah dengan sangat, setelah mengomeli puteranya tersebut, si ayah menambahkannya dengan memukulkan tangan puteranya dengan sebuah bunga dari pot yg spontan ia cabut untuk memukul tangan puteranya.

Ia pukul berkali-kali, mungkin karena sangking takutnya si anak pun pingsan. Karena melihat anaknya pingsan tersadarlah si ayah dan kemudian pergi kerumah sakit untuk mengobati puteranya.

Malang nian nasib anaknya tersebut, walaupun hanya dipukul dengan bunga, tetapi ternyata bunga tersebut durinya mengandung racun. Dan racunnya sudah menginfeksi di kedua tangan anaknya.

Dan satu-satunya cara untuk menghindari agar racun tersebut tidak menyebar lebih jauh lagi adalah dengan mengamputasi pergelangan tangan.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Kita bisa bayangkan orang yg kita cintai dan sayangi anak darah daging kita di depan mata kita diamputasi dikarenakan kesalahan kita.

Setelah sadar pasca operasi amputasi, si anak pun terbangun dan melihat bahwa kedua tangannya sebatas pergelangan tangan sudah tidak ada. dan si anak pun menangis sambil mengucap “ ayah ampun ayah…..ade gak akan menggambar di mobil ayah lagi….ayah ampun ayah…kembalikan tangan ade…ade gak akan mengulangi lagi…”

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Itulah salah satu kisah tentang Marah yg dapat membawa malapetaka. Orang sedang marah dikuasai hawa nafsu dan setan. Pikirannya menjadi tidak jernih, tidak bersih. Akalnya menjadi tidak berfungsi normal. Bila manusia marah maka setan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan setan.

DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni mengatakan, Berhati-hatilah terhadap keributan, karena ia sangat melelahkan. Jauhilah sikap mencerca dan mencela, karena ia sangat menyiksa.

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam“Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka”. Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan” (HR. Thobrani, Shohih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan”.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring”(HR. Ahmad).

Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh seorang ulama dari Mesir, menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah. Diantaranya ialah :
(1) Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.
(2) Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya
(3) Mengambil sikap diam, tidak berbicara
(4) Duduk atau berbaring
(5) Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah
(6) Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh
(7) Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.

Jamaah sholat zuhur yang dirahmati Allah
Semoga kita semua bisa MENAHAN AMARAH, BERDAMAI dan MEMAAFKAN...

Allahu’alam bishshowab.
Subhanakallahumma wa bihamdika Asyhaduala ilaha ila Anta Astahfiruka wa Atubu ilaik.
Alhaqqu mirrabik, wal afwan minkum
Wassalamu’alaikum wr.wb.

disampaikan di Masjid Nurul Falah, 12 Sept 2011 / 13 Syawal 1432H
PT. Indonesia Power UBP Priok.

Tidak ada komentar: