Kamis, 11 Maret 2010

Penjelasan Menkeu di PANSUS DPR.



berikut adalah hasil rangkuman yg dibuat kawan saya di salah satu forum diskusi tepatnya di MyQuran , mengenai penjelasan Menkeu Ibu Sri Mulyani Indrawati waktu di panggil PANSUS DPR.




Sangat sulit untuk menampik bahwa Indonesia tidak terkena krisis. Meskipun pada akhirnya dampak yang diderita tidak menjadi parah, setidaknya ada langkah langkah pemerintah ketika membaca kondisi-kondisi ancaman krisis. Dalam kata lain pemerintah sigap memitigasi risiko-risiko krisis yang akan terjadi berdasarkan informasi historis.

berikut kondisi-kon
disi yang bisa dijelaskan,


1. Situasi pasar keuangan pada Q-IV/2008 tertekan tajam, sebagai reaksi terhadap berita negatif pasca kejatuhan Lehman Brothers dan lembaga- lembaga keuangan global lainnya.
2. Pasar modal domestik mengalami gejolak dan harga saham terjun bebas, yang ditunjukkan dengan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) secara tajam yakni dari 2830 pada tanggal 9 Januari 2008 menjadi 1155 pada tanggal 20 November 2008 atau menurun lebih dari 50%. Secara individu beberapa perusahaan besar baik di dalam negeri maupun di luar negeri mengalami penurunan nilai kapitalisasi pasar yang sangat besar.

Grafik IHSG


3. Tekanan yang sangat hebat terjadi di pasar Surat Utang
Negara/SUN, yang tercermin dari kenaikan yield atau penurunan harga SUN Rupiah yang sangat tajam. Yield SUN naik dari awal tahun rata-rata 10% menjadi rata-rata 20% pada bulan Oktober 2008 dan 17% pada bulan November 2008. Kenaikan yield akan meningkatkan biaya utang secara signifikan dalam APBN karena setiap kenaikan 1% (100bps) akan mengakibatkan tambahan biaya utang sekitar Rp 1 triliun.

Rata-rata yield SUN mengalami kenaikan tajam pada Oktober 2008 (20%) dan November 2008 (17%) dibanding awal 2008 (10%)


4. Credit Default Swap (CDS) Indonesia meningkat tajam. Ini mengindikasikan risiko (country risk) Indonesia sedang tinggi.

Grafik Credit Default Swaps (CDS)

5. Kelangkaan dan kesulitan likuiditas di pasar keuangan, yang menyebabkan pinjaman antar bank tidak jalan, kepanikan para pelaku pasar, dan kepercayaan antar pelaku di pasar uang semakin rendah. Keadaan ini mendorong mereka mencari asset atau lokasi yang paling aman untuk berinvestasi, yang berimbas pada pelarian dana ke luar negeri (capital flight)
6. Cadangan devisa turun 12% dari USD 57.11 milyar per September 2008 menjadi USD 50.18 milyar per November 2008

Cadangan Devisa Menurun Drastis


7. Rupiah terdepresiasi 30.9% dari Rp 9.393 per Januari 2008 menjadi Rp 12.100 per November 2008 dengan volatilitas tinggi.

Depresiasi Rupiah Yang Sangat Tajam


8. Depresiasi Rupiah yang sangat tajam mengakibatkan investor asing melakukan ‘redemption’ atau melepas /menjual SUN dalam jumlah cukup besar sekitar Rp20 triliun dalam periode Agustus – November 2008.

Depresiasi Rupiah yang sangat tajam mengakibatkan investor asing melakukan ‘redemption’ atau melepas SUN


9. Banking Pressure Index (dikeluarkan Danareksa Research Institute) dan Financial Stability Index (dikeluarkan oleh BI) masuk ambang batas kritis. Banking Pressure Index per Oktober 2008 sebesar 0,9 atau lebih tinggi dari ambang normal 0,5. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap sistem perbankan yang cukup tinggi dan potensi terjadinya kegagalan (default) yang sangat besar. Sementara itu, Financial Stability Index per November 2008 sebesar 2,43 atau di atas angka indikatif maksimum 2,0. Kedua indikator ini menunjukkan sistem perbankan dan sistem keuangan nasional dalam keadaan genting.

Banking Pressure Index Indonesia (Sumber: Danareksa Institute)

Financial Stability Index (Sumber: Bank Indonesia)


10. Terdapat potensi capital flight yang besar dari para deposan bank. Ini karena di Indonesia tidak ada sistem penjaminan nasabah bank secara penuh (full guarantee) seperti yang sudah diterapkan Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, Taiwan, Korea, serta Uni Eropa.

sumber: Kementerian Keuangan


Dengan melihat grafik-grafik tersebut saya bisa memahami apa yang disebut "kondisi kebatinan" atau "suasana mencekam" saat pengambilan keputusan tersebut.

Maka, mengatakan Indonesia tidak ada krisis itu adalah pernyataan diantara satu kemungkinan: dusta atau bodoh.

Krisis 2008 telah dibicarakan dalam berbagai media massa dan telah diakui dan dinyatakan oleh para ahli ekonomi termasuk anggota DPR. Ini Fakta bukan bualan.

Suara Karya, 24 April 2008
“Jika terpaksa, pemerintah tak perlu ragu merevisi APBN-P 2008. Atau, pemerintah juga bisa menggunakan opsi yang telah diberikan DPR jika harga minyak terus meningkat. "Dengan harga minyak yang sudah hampir mendekati 120 dolar AS per barel, pemerintah sudah harus reaslistis. Tanpa pemotongan subsidi dan penghematan penggunaan BBM, bisa jebol ekonomi kita," katanya. Adiningsih mengingatkan kerawanan ekonomi yang akan dihadapi Indonesia. Perekonomian nasional mudah terguncang karena tekanan harga minyak. Belum lagi faktor fundamental yang masih rapuh. "Saat ini pemerintah harus mulai berpikir dan bertindak untuk jangka panjang. Jangan sampai sendi-sendi ekonomi terlanjur rusak," ujarnya

Sri Adiningsih, Analis dan Ekonom


Kompas.com, 28 April 2008
Saat krisis terjadi, BI dan Pemerintah tidak akan memiliki cukup waktu untuk berdebat. Kebijakan mendasar harus diputuskan tidak dalam hitungan hari, namun hitungan jam, bahkan menit. Terlambat sedikit saja bisa menghancurkan pasar keuangan”

Bambang Soesatyo, Anggota DPR 2004 – 2009


Okezone.com, 9 Oktober 2008
Pemerintah harus menentukan manuver-manuver politiknya dan segera melakukan tindakan untuk meredam krisis yang sedang melanda Indonesia.Pemerintah sebaiknya mengambil langkah nyata selagi Indonesia belum merasakan benar jalaran badai krisis AS. Kita bisa ambil contoh bagaimana negara bagian Florida bergerak cepat mengungsikan warganya ketika badai Katarina menerjang daerah tersebut”

Drajad Wibowo, Ekonom dan Anggota DPR
Komisi XI Periode 2004-2009


Opiniindonesia.com, 10 Oktober 2008
“Kehancuran ekonomi di Amerika sudah menjalar kemana-mana, tidak hanya sektor finansial”

Hendri Saparini, Ekonom Econit


Suara Pembaharuan, 13 Oktober 2008
“…Pemerintah harus segera bertindak cepat guna mengantisipasi krisis yang sudah melanda pasar modal meluas ke perbankan..”

Mauarar Sirait, Anggota DPR 2009 – 2014


Inilah.com, 13 November 2008

Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini baru tahap awal. Sebab, masih akan ada lagi tahap-tahap yang lebih parah, jika Pemerintah tidak tanggap dan sadar. Perekonomian di 2008 adalah tahun gelembung, karena banyak perusahaan yang berpusat di sektor finansial.”

Rizal Ramli, Ekonom


Suarakaryaonline.com, 22 November 2008
“Negara harus melakukan penyelamatan karena proses business to business tidak bisa direalisasikan. Mungkin juga karena penyelamatan secara bisnis maupun legal tidak layak… kasus Bank Century ini dikhawatirkan menimbulkan kecemasan masyarakat menyangkut keamanan dana mereka di perbankan nasional. Karena itu, ujarnya, pemerintah makin urgent menerapkan penjaminan penuh terhadap simpanan masyarakat di perbankan.”

Drajad Wibowo, Ekonom dan Anggota DPR
Komisi XI Periode 2004-2009


Kompas.com, 2 Desember 2008

Kita terkejut dengan dampak krisis global terhadap Indonesia. Ini tidak main-main akan ada kebangkrutan industri dalam jumlah besar dan pasti ada PHK massal. Harus ada langkah serius yang konkret dari pemerintah guna mengatasi krisis yang dampaknya diperkirakan mulai terasa semester pertama tahun depan. Apa yang dikemukakan pemerintah tidak ada yang potensial untuk selesaikan masalah. Kalau ada demo besar-besaran pekerja tekstil yang PHK pemerintah jangan kaget”

Ramson Siagian, Anggota DPR
Komisi XI Periode 2004-2009


Kompas.com, 2 Desember 2008
Harus ada upaya konkret, upaya mencegah krisis sejak dini. Harus dipetakan sektor apa saja yang paling kena krisis. Dampak krisis terhadap APBN. Baiknya disampaikan hal terburuk yang berakibat dari krisis jadi dicari jalan keluar. Dalam krisis ini harus ada langkah berani dari pemerintah untuk mengantisipasi krisis. Kalau dikatakan ada kebijakan stimulus fiskal. Dalam tahun normal pun ada kebijakan itu. Harus ada kebijakan yang berbeda"

Ahmad Hafidz Nawawi, Anggota DPR
Komisi XI Periode 2004-2009


Kompas.com, 2 Desember 2008
“Perekonomian Indonesia sekarang ibarat menyimpan api dalam sekam. Bila tidak diselesaikan dengan cepat akan berdampak sistemik terhadap berbagai sektor. Terutama perbankan masalah yang terjadi dengan Bank Century bisa saja terjadi dengan bank-bank lain. Jangan diremehkan. Harus ada antisipasi dari pemerintah dan Bank Indonesia"

Melchias Markus Meneng, Anggota DPR
Komisi XI Periode 2004-2009


Suarakarya-online.com, 17 Desember 2008
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dampak krisis jelas sudah demikian terasa, yakni jatuhnya nilai IHSG di Bursa Efek Indonesia hingga penutupan aktivitas bursa beberapa waktu lalu. Dampak krisis paling nyata juga terlihat dari turunnya omset ekspor produk-produk Indonesia ke pasaran dunia, terutama AS dan Eropa, termasuk produk yang dikelola oleh pengusaha bidang usaha kecil dan menengah (UKM) hingga industri besar nasional. Kesulitan diperkirakan semakin besar karena penguatan pasar domestik yang diharapkan bisa menyerap berbagai produk nasional belum bisa maksimal”

Avilliani, Analis dan Ekonom


Suarakarya-online.com, 18 Desember 2008
Dampak dari krisis ini bukan hanya ancaman pengangguran, melainkan lebih dari itu, yakni penurunan kualitas hidup masyarakat. ... Kondisi ini sudah terlalu sulit untuk pemerintah mencari jalan keluarnya. Sebab, krisis saat ini sangat berbeda dengan krisis 10 tahun silam (1998). Pada krisis moneter 1998, hanya kalangan tingkat ekonomi atas saja yang merasakannya. Krisis kali ini memukul rata perekonomian masyarakat di setiap kelas.”

Ichsanuddin Noorsy, Ekonom


sumber: kehumasan, Kementerian Keuangan

Jika ada anggota DPR mengatakan Indonesia aman aman saja, tidak terjadi apa-apa, tidak mengalami ancaman krisis maka mohon maaf saya katakan salah satu dari dua kemungkinan: DUSTA atau BODOH!

Semoga bisa memuaskan rekan rekan yang mungkin tidak sempat menonton Sri Mulyani atau Budiono ketika menjelaskan di pansus.

Terima kasih ...

Tidak ada komentar: